FATAMORGANA

Jadi gini, sekitar empat atau lima tahun lalu aku berkenelanan dengan seseorang dari sosial media. Yang awalnya aku melihat dia dari unggahan cerita whatsapp salah satu temanku. Aku sedikit lupa tentang apa yang aku katakan ke temanku dulu dan yang pasti tidak perlu waktu lama aku menemukan akun sosial media perempuan cantik yang berfoto dengan temanku itu.

Dengan cara basa basi yang paling basi aku mengirimkan sebuah pesan kepadanya. Aku tidak berharap pesanku akan di balas olehnya. Sebab, bagaimana bisa pesan sapaan superr basi dari orang yang seperti musang ini di balas oleh perempuan super cantik itu hahahha.

You


Tidak ada senyuman di akun instagramnya, biasa saja, sepi, dan tidak sepeerti perempuan lainya yang fotonya bertebaran di sosial media. 

Dua hari berlalu dan pesanku belum juga di balas. Ya bgitulah, seperti kataku tadi aku tidak berharap pesanku akan di balas. Tapi di dalam otak yang rumit ini masih berfikir kalau mungkin dia belum melihat pesanku. Sembari melihat-lihat pesan yang aku kirimkan aku masih memikirkan betapa cantiknya dia.

Beberapa hari berlalu. Setelah aku sampai lupa jika pernah mengirimkan sebuah pesan kepadanya akhirnya pesanku di balas. Dengan perasaan yang penuh dengan kebingungan aku masih berfikir bagaimana kata yang tepat untuk membalas pesan dia. 

Semenjak aku berpisah dengan perempuan yang menemaniku dulu, aku sudah lama sekali tidak berhubungan dengan perempuan lagi. Itulah yang menjadi alasan kenapa aku tidak bisa basa-basi. Akhirnya aku balas se-adanya. Aku pikir itu mungkin hanya sapaan kepadaku dan akan selesai cuma di situ.

Dan ternyata tidak. Dia membalas lagi pesanku, kita berkenalan yang sampai akhirnya kita seperti akrab di dalam gelembung pesan itu. Dia tidak seperti yang aku bayangkan. Dia tidak dingin, malah justru dia menyenangkan, lucu, tapi agak sedikit menyebalkan. 



Beberapa minggu berlalu akhirnya kita sudah mulai akrab tapi hanya di dalam sebuah pesan whatsapp. Dan singkat ceritanya aku memberanikan diri untuk mengajaknya bertemu di salah satu kedai kopi.

Itu adalah hal yang sangat tidak mudah. Dia tidak seperti perempuan yang lainya, dia seperti perempuan mahal yang sulit untuk di temui. Tapi manusia yang seperti musang ini tidak menyerah begitu saja. Rayuan demi rayuan aku keluarkan agar bisa melihat wajah cantiknya di depanku.

Setelah sekian banyak jurus aku keluarkan akhirnya dia mau aku ajak untuk bertemu. Dengan pakaian gembel, muka jerawatan, dan mata sedikit mengantuk. aku menjemput perempuan super cantik yang mungkin banyak sekali lelaki yang merebutkan. Aku menjemputnya di sebuah kost berwrna hijau dekat dengan tempat kerjanya. Dan akhirnya kita ngobrol di sebuah kedai kopi di sekitaran sana.

Skip aja kali ya sesi kenalanya. Kelamaan...

Oh ya, dari tadi cerita aku sampai lupa menyebutkan namanya. Namanya adalah Felitha desmonda. Nama yang indah kan? Itu sangatlah cocok dengan wajah cantiknya. Munafik rasanya jika aku bilang tidak menyukainya.

Benar, setelah beberapa bulan kita akrab perlahan perasaan suka tumbuh di sela-sela kekosongan hatiku. Bukan karena dia cantik, terlepas dari kecantikanya dia juga baik, lucu, menyenangkan, sederhana. Sangat berbanding terbalik dengan diriku.

Mungkin yang menyebalkan darinya adalah sifatnya yang cuek. Tapi semua sifat baiknya bisa menutupi kekuranganya itu. Itulah yang mdmbuatku semakin suka kepadanya

Tapi rasanya sangatlah mustahil orang sepertiku bisa memiliki dia sepenuhnya. Muka pas-pasan, ekonomi standar, pekerjaan tidak jelas, dan yang lebih mustahilnya lagi adalah kita beda keyakinan.

Aku belum pernah berani untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. Sampai akhirnya kita menjadi asing. Alasanya adalah dia sudah memiliki hubungan dengan orang lain. Dan aku memutuskan untuk tidak menghubungi dan lebih memilih untuk menunggunya.

Memang terlihat seperti pengecut. tapi, merelakan dia bahagia dengan seseorang adalah caraku menyayanginya... 

Komentar

Barangkali mau baca juga